tujuan pembentukan fujinkai


KEANGGOTAAN HIZBULLAH

Dilihat dari keanggotaannya, APS di Yogyakarta dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, adalah bekas Laskar Sabillillah yang didirikan pada akhir pendudukan Jepang. Sedangkan kelompok kedua adalah pemuda bekas Laskar Hizbullah dan kelompok pemuda kampung yang berumur dibawah 40 tahun, terutama pemuda Islam yang telah mendapat izin dari orang tuanya. Kelompok pemuda inilah yang diorganisasikan oleh bekas Laskar Sabillillah untuk dipersenjatai dan mendapat tugas melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di front-front pertempuran.
Akan tetapi meskipun begitu, keanggotaan APS tidak hanya berasal dari masyarakat atas saja, tetapi juga berasal dari berbagai lapisan masyarakat seperti dari masyarakat kota hingga masyarakat desa. Mereka juga memiliki berbagai profesi seperti ulama, guru, murid, pedagang, petani, santri, dan sebagainya.[4]

I. PERAN SERTA APS DALAM MEMPERTAHANKAN NKRI

a. Merintangi Masuknya Belanda ke Yogyakarta
Pada tanggal 19 Desember 1948 adalah hari bersejarah dimana kolonial Belanda mulai menduduki Ibukota RI yang berada di kota Yogyakarta. Laskar APS ikut menghadang masuknya tentara Belanda dan berusaha mempertahankan kota Yogyakarta agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Dalam peristiwa ini jumlah korban yang jatuh dari pihak APS sebanyak 9 orang.
b. Mengamankan Bantul
Serangan Belanda terhadap Bantul menyebabkan kota Bantul menjadi kosong dari penjagaan dan pemerintahan. Maka terjadilah perampokan dan penggedoran liar terhadap rumah-rumah penduduk. Melihat adanya situasi yang tidak sehat ini, maka pimpinan MU-APS mengambil kebijakan untuk bertindak mengamankan dan mengatur pemerintahan darurat agar kehidupan rakyat jadi tenang dan tentram.
c. Menyerang Kota Yogyakarta
Pada tanggal 8 Januari 1949 atas ajakan Letnan Kolonel Suhud dari TNI, APS menyerbu Yogyakarta bersama pasukan TNI untuk mengusir penjajah Belanda yang masih bercokol di kota itu. Penyerbuan itu dipimpin oleh Imam besar K.H. A. Machfudz dan Komandan APS Muh. Sjarbini. Serbuan tersebut membawa hasil yang baik dan membuat pasukan Belanda kocar-kacir.
Setelah serbuan itu pasukan APS kembali ke markasnya. Di samping terdapat 2 regu pasukan APS di bawah pimpinan Abdullah Mabrur yang tetap meneruskan perang gerilya didalam kota dan berpos di Sonosewu (barat batas kota Yogya sekitar ½ km dari Ketanggungan). Perang gerilya APS yang 2 regu ini bertahan sampai seminggu dan berhasil menghancurkan beberapa daerah pokok Belanda.
Akan tetapi pada tanggal 14 januari 1949 Belanda mengadakan serbuan besar-besaran ke Sonosewu dengan satu Kompi serdadu dilengkapi senjata berat ringan yang lengkap. Lasykar APS di Pos Sonosewu pada saat itu hanya terdapat dua regu, sedang pasukan TNI yang bersenjata sudah meninggalkan Sonosewu. Akibat dari serangan Belanda tersebut 12 anggota APS gugur menemui syahidnya. Korban tersebut merupakan korban terbanyak bagi APS dalam pertempuran selama dua tahun. Oleh penduduk setempat, pahlawan yang gugur itu dimakamkan di Kuburan Sonosewu, dan selalu diziarahi setiap peringatan kemerdekaan Indonesia.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/