Sampaikan Tiga Hal Pekerjaan Rumah Bangsa

Sampaikan Tiga Hal Pekerjaan Rumah Bangsa

Sampaikan Tiga Hal Pekerjaan Rumah Bangsa

Wali Kota Bogor Bima Arya

Menurut Wali Kota Bogor Bima Arya diantara banyaknya tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia dari masa ke masa, ada tiga hal yang saat ini sejatinya masih jadi pekerjaan rumah (PR) bagi semua yakni pragmatisme, sekularisme dan sektarianisme. Ia menilai, ketiga hal ini  akan menimbulkan permasalahan yang tidak diinginkan jika semua elemen Bangsa Indonesia tidak merapatkan barisan untuk menangkalnya.

Pragmatisme ketika bangsa

“Ketiga hal tersebut dari masa ke masa menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita semua. Pragmatisme ketika bangsa ini dihadapkan pada satu kecenderungan dimana berpolitik, berkhidmat, mengabdi, aktif dibidang apapun didorong hanya untuk kepentingan-kepentingan duniawi, dibanding kepentingan ukhrowi. Didorong kepentingan jangka pendek dibanding kepentingan jangka panjang. Semua diukur demi kepentingan sesaat dibanding kepentingan kedepan,” ujar Bima saat acara Pengukuhan Pengurus MUI Kota Bogor periode 2017-2022 di Gedung PPIB, Kota Bogor, Rabu (12/07/2017).

Tren ini kata Bima terjadi dalam berbagai tingkatan

Tidak mengenal usia dan latar belakang. Kenapa pragmatisme terjadi, bisa jadi karena perpilahnya nilai-nilai dari tujuan tadi sehingga tujuan mengalahkan proses, ketika motivasi untuk berjuang mengabdi tidak didasari nilai-nilai ilahiah.

“Ketika nilai-nilai keikhlasan tidak menjadi dasar dalam berjuang dan mengabdi, dalam skala yang sangat ekstrim kemudian terjadi pemilahan. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, para pendahulu kita telah mengajarkan bahwa ulama dan umaro selalu bersanding, ulama selalu memegang posisi yang sangat strategis dalam berbagai hal terkait perjalanan bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai ilahiah tadi hadir dalam setiap pengabdian kita, persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia insya allah tidak terlalu rumit,” paparnya.

Untuk sektearisme

Bima menjelaskan ketika semangat ke-aku-an, gengsi kelompok, target-target untuk kepentingan golongan lebih mengemuka daripada kepentingan bersama, bisa jadi timbul sentimen-sentimen. Padahal para pendahulu dengan keteladanan telah berjuang untuk mengikis habis sektearisme, serta mendorong gorong royong dan kolektivisme. Sementara itu, terkait sekularisme yang memiliki pengertian memisahkan antara negara dan agama.

MUI Kota Bogor yang di ketuai KH Mustofa Bin Nuh

“Harapan kita semua sama, semoga MUI Kota Bogor yang di ketuai KH Mustofa Bin Nuh menguatkan kembali perlawanan kita terhadap tiga hal tersebut. Untuk pengurus MUI sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas semua usahanya untuk mencerahkan umat, menselarasikan dan mensinkronkan antara ulama dan umaro. Untuk pengurus MUI yang baru semoga bisa melanjutkan sehingga menjadi lebih baik lagi,” pungkas Bima..

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI Jabar KH. Rachmat Syafe’i, Wali Kota Bogor Bima Arya, Ketua DPRD Kota Bogor Untung W Maryono, Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya, Ketua KPU Kota Bogor Endang Suryatna, Dandim 0606 Letkol Arm. Doddy Suhadiman, jajaran Muspida, Para pimpinan pondok pesantren, Tokoh Agama, Ormas, dan Tokoh Lintas Agama.

Menurut Wali Kota Bogor Bima Arya diantara banyaknya tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia dari masa ke masa, ada tiga hal yang saat ini sejatinya masih jadi pekerjaan rumah (PR) bagi semua yakni pragmatisme, sekularisme dan sektarianisme. Ia menilai, ketiga hal ini  akan menimbulkan permasalahan yang tidak diinginkan jika semua elemen Bangsa Indonesia tidak merapatkan barisan untuk menangkalnya.

“Ketiga hal tersebut dari masa ke masa menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita semua. Pragmatisme ketika bangsa ini dihadapkan pada satu kecenderungan dimana berpolitik, berkhidmat, mengabdi, aktif dibidang apapun didorong hanya untuk kepentingan-kepentingan duniawi, dibanding kepentingan ukhrowi. Didorong kepentingan jangka pendek dibanding kepentingan jangka panjang. Semua diukur demi kepentingan sesaat dibanding kepentingan kedepan,” ujar Bima saat acara Pengukuhan Pengurus MUI Kota Bogor periode 2017-2022 di Gedung PPIB, Kota Bogor, Rabu (12/07/2017).

Tren ini kata Bima terjadi dalam berbagai tingkatan, tidak mengenal usia dan latar belakang. Kenapa pragmatisme terjadi, bisa jadi karena perpilahnya nilai-nilai dari tujuan tadi sehingga tujuan mengalahkan proses, ketika motivasi untuk berjuang mengabdi tidak didasari nilai-nilai ilahiah.

“Ketika nilai-nilai keikhlasan tidak menjadi dasar dalam berjuang dan mengabdi, dalam skala yang sangat ekstrim kemudian terjadi pemilahan. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, para pendahulu kita telah mengajarkan bahwa ulama dan umaro selalu bersanding, ulama selalu memegang posisi yang sangat strategis dalam berbagai hal terkait perjalanan bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai ilahiah tadi hadir dalam setiap pengabdian kita, persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia insya allah tidak terlalu rumit,” paparnya.

Untuk sektearisme, Bima menjelaskan ketika semangat ke-aku-an, gengsi kelompok, target-target untuk kepentingan golongan lebih mengemuka daripada kepentingan bersama, bisa jadi timbul sentimen-sentimen. Padahal para pendahulu dengan keteladanan telah berjuang untuk mengikis habis sektearisme, serta mendorong gorong royong dan kolektivisme. Sementara itu, terkait sekularisme yang memiliki pengertian memisahkan antara negara dan agama.

“Harapan kita semua sama, semoga MUI Kota Bogor yang di ketuai KH Mustofa Bin Nuh menguatkan kembali perlawanan kita terhadap tiga hal tersebut. Untuk pengurus MUI sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas semua usahanya untuk mencerahkan umat, menselarasikan dan mensinkronkan antara ulama dan umaro. Untuk pengurus MUI yang baru semoga bisa melanjutkan sehingga menjadi lebih baik lagi,” pungkas Bima..

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI Jabar KH. Rachmat Syafe’i, Wali Kota Bogor Bima Arya, Ketua DPRD Kota Bogor Untung W Maryono, Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya, Ketua KPU Kota Bogor Endang Suryatna, Dandim 0606 Letkol Arm. Doddy Suhadiman, jajaran Muspida, Para pimpinan pondok pesantren, Tokoh Agama, Ormas, dan Tokoh Lintas Agama.

Artikel terkait :