Romo Marsel, Air dan Cahaya Pendidikan Anak-anak NTT

Romo Marsel, Air dan Cahaya Pendidikan Anak-anak NTT

Romo Marsel, Air dan Cahaya Pendidikan Anak-anak NTT

Romo Marsel, Air dan Cahaya Pendidikan Anak-anak NTT
Romo Marsel, Air dan Cahaya Pendidikan Anak-anak NTT

Sekilas, air dan pendidikan adalah dua hal yang tak saling berhubungan.

Namun keduanya adalah hal yang tak terpisahkan bagi Romo Marselus Hasan, pastor Paroki Santo Damian Bea Muring, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Di tangannya, air bukan cuma jadi kebutuhan sehari-hari untuk minum, masak, mandi, atau hanya mencuci.

Sebaliknya, ‘olahan’ air Romo Marsel, demikian dia disapa, justru bisa meningkatkan pendidikan anak-anak di Manggarai Timur.

Lihat juga:Mencari Sesuap Nasi di Hong Kong

Romo Marsel, sang pejuang air ‘mengolah’ aliran air sungai sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro dan membantu memenuhi kebutuhan listrik untuk belajar.

Saat ditemui di kedai kopi Tanamera, Kebayoran Baru, Kamis (4/5). ide ini bermula dari keprihatinannya terhadap situasi pendidikan anak-anak Manggarai Timur. Menurutnya wilayah Manggarai Timur masih kesulitan akses listrik sehingga tiap rumah tangga mau tidak mau menggunakan generator dengan bunyi nyaring.

“Tiap malam warga diganggu suara generator. Satu desa paling tidak ada 50 generator,

bisa dibayangkan bisingnya seperti apa,” katanya.

Tak hanya itu, penggunaan generator juga membuat warga harus mengeluarkan dana tak sedikit. Satu malam perlu dana Rp30 ribu untuk membeli bensin atau solar, artinya sebulan pengeluaran untuk kebutuhan listrik mencapai Rp900 ribu.

Romo Marsel pun melihat potensi aliran sungai di wilayah Manggarai Timur. Potensi ini tak bisa didiamkan begitu saja, apalagi menilik ensiklik atau surat amanat dari Paus Fransiskus pada 2015 berjudul ‘Laudato Si’.

Lihat juga:5 Cara Efektif Detoksifikasi Tubuh

Romo Marsel menuturkan ensiklik ini bicara soal aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan hidup hendaknya memperhitungkan hak dasar kaum miskin dan dan mereka yang kurang mampu.

Berangkat dari sini, ensiklik kemudian diaplikasikan ke dalam pelayanan kontekstual atau sesuai dengan kondisi umat. Inisiatif yang muncul pada 2011 ini mulai digarap pada 2012.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dimulai di Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur. PLTMH pun berhasil memenuhi kebutuhan listrik di tiga desa yakni Deno, Leong dan Arus.

Pada tahun-tahun berikutnya satu per satu PLTMH pun berdiri dan listrik pun bisa dinikmati warga Desa Rana Mese, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur (2013), empat desa di Kecamatan Poco Ranaka yakni Melo, Golo Ndari, Compang dan Golo Wune, tiga desa di Kecamatan Elar yaitu Biting, Rana Gahpang, Compang Teo dan kelurahan Tiwu Kondo (2015). Pada tahun lalu PLTMH mampu menerangi Desa Rego, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami memanfaatkan potensi aliran ungai Wae Rina, Wae Lenger, Wae Labar

Wae Mese dan Wae Mese dan Wae Rego. Arus listrik yang dialirkan beda-beda, ada yang 50, 65, 80 sampai 100 kWh,” imbuhnya.

Kehadiran listrik yang lebih ramah lingkungan dan antibising membuat banyak perubahan di desa-desa. Penerangan membantu anak-anak belajar dengan lebih baik, kampung lebih aman serta bisa menekan pengeluaran rumah tangga.

Romo Marsel bercerita warga memberikan iuran tiap bulan sesuai dengan jumlah bohlam yang digunakan. Satu buah bohlam bernilai Rp10ribu, artinya jika di rumah menggunakan tiga buah bohlam, warga membayar Rp30ribu. Sedangkan untuk alat elektronik seperti televisi, dihitung sama dengan tiga buah bohlam.

Perjuangan penyediaan listrik untuk desa-desa bukan tanpa tantangan. Ia berkata pembangunan sebagian besar dilakukan swadaya. Ada memang bantuan pemerintah, tapi dana tak begitu besar. Di awal proses pembangunan, tiap rumah tangga dibebani iuran sebesar Rp2juta.

“Itu sebelum ada kenaikan BBM. Tahun terakhir, tiap warga iuran Rp2,75 juta.

Dana sebesar itu berat buat warga. Kalau sumbangan tenaga tidak masalah, yang tunai ini (berat),” imbuhnya.

Beruntung ia tak sendiri. Pembangunan PLTMH turut dibantu bank lokal, koperasi serta pemerintah. Pembangunan PLTMH di lima kecamatan memakan total biaya Rp13 miliar lebih. Biaya ini digunakan antara lain untuk pembangunan bendungan, saluran air, dan bak penenang. Biaya sebesar ini pun kini membuat sebanyak 1.290 KK dapat menikmati listrik.

“Listrik PLTMH juga memenuhi kebutuhan rumah sakit dan rumah adat,” katanya.

Berkat inisiatif dan usahanya, Romo Marsel diganjar penghargaan dari Ades sebagai ‘pejuang air’.

“Individu ini memenuhi beberapa kriteria yakni inisiatif soal konservasi air, bermanfaat untuk masyarakat sekitar, skalanya besar dan usaha ini bisa direplikasi di tempat lain,” kata Mohamad Rezki Yunus, Marketing Manager Hydration PT Coca Cola Indonesia, perusahaan yang menaungi Ades

 

Sumber :

https://profiles.wordpress.org/ojelhtcmandiri/