PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT


PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT
PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT
Kepentingan individu untuk mendapatkan rasa aman
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kepentingannya, maka ia akan merasa puas dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kepentingan ini akan banyak menimbullkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Umumnya secara pskologis dikenal ada dua jenis kepentingan dalam diri individu, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/pskologis. Oleh karena individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis didalam aspek pribadinya baik jasmani maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan tersebut secara garis besar disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pembawaan dan lingkungan sosial sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu.
Setiap manusia berhak mempunyai rasa aman dalam kehidupannya karena bila tidak individu itu akan merasa tidak aman dalam kehidupannya sendiri. Individu juga harus mempunyai perlindungan diri karena akan menjadikan rasa aman pada dirinya. Sama saja kita sebagai individu mempunyai hak-hak yang wajib kita dapat seperti, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk beribadah, dst. Dengan demikian, HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. HAM mencakup 2 jenis hak yang mendasar/fundamental yaitu:
* HAK PERSAMAAN, misalnya hak untuk diperlakukan tanpa diskriminasi, dst.
* HAK KEBEBASAN, misalnya kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk menyampaikan pendapat, kebebasan untuk berserikat, dsb.
  1. Jelaskan kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kepentingannya, maka ia akan merasa puas dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kepentingan ini akan banyak menimbullkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya.
Pada umumnya secara pskologis dikenal ada dua jenis kepentingan dalam diri individu, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/pskologis. Oleh karena individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis didalam aspek pribadinya baik jasmani maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan tersebut secara garis besar disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pembawaan dan lingkungan sosial sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu dalam hal kepentingannya, meskipun dengan lingkungan yang sama. Sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu dalam hal kepentingan meskipun pembawaannya sama
Perbedaan kpentingan itu antara lain berupa :
  1. kepentingan indivdu untuk memperoleh kasih saying
  2. kepentingan indivdu untuk memperoleh harga diri
  3. kepentingan individu untuk memperoleh pengharagaan yang sama
  4. kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi
  5. untuk dibutuhkan oleh orang lain
  6. untuk memperoleh kedudukan didalm kelompoknya
  7. kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
  8. kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan

Studikasus

Dalam perkembangan lingkungan keamanan internasional saat ini, terorisme menjelma menjadi salah satu bentuk isu keamanan non tradisional yang ditempatkan sebagai ancaman bersama bagi setiap Negara di dunia. Terorisme tidak lagi dipandang sebagai tindak kriminal biasa, atau dikategorikan sebagai ancaman konflik berintensitas rendah yang hanya menjadi domain isu keamanan domestik, tetapi pada perkembangannya terkini, terorisme dikategorikan sebagai extra ordinary crime dan termasuk ke dalam tindak kejahatan terhadap kemanusiaan, setara dengan kejahatan perang dan genosida.
Terorisme adalah suatu tindakan yang terencana, sistematis bersifat dinamis dalam pelaksanaan operasinya. Yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun Negara yang memenuhi unsur-unsur penggunaan kekerasan yang tidak berperikemanusiaan dengan menggunakan senjata, bahan peledak maupun senjata pemusnah masal/nubika sehingga mampu mempengaruhi psikologi bangsa secara negatif, guna mencapai tujuan akhir yang berlawanan dengan kepentingan nasional. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa acak serta seringkali merupakan warga sipil. Sasaran terorisme bisa jadi siapa saja dan apa saja, entah itu Negara atau kelompok atau individu, namun pada prinsipnya dan yang paling menyakitkan, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam hal ini kita berbicara pada posisi dimana HAM menjadi sasaran tindakan teror itu dilakukan, jika kita melihat peledakan bom, terorisme tidak hanya dilakukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja, terhadap siapa saja dan tidak berperikemanusiaan serta tidak memiliki justifikasi.
Dari hal itu kita kembali diingatkan, terorisme tidak lagi sekedar peledakan bom bunuh diri atau penyanderaan, tapi terorisme telah meluas sampai perampasan Hak Asasi Manusia (HAM) di segala lini kehidupan, akan tetapi, pejuang HAM pun memiliki tantangan dalam menghadapi terorisme. Menyandingkan “terorisme dengan HAM” bisa jadi adalah sesuatu yang paradoks, pada suatu sisi, teroris atau tersangka teroris tergolong telah melakukan kejahatan berat, yaitu tidak hanya telah menghabisi nyawa orang lain, yang kadang kala tidak tahu apa-apa, tetapi juga menebarkan rasa takut dan cemas ke anggota masyarakat yang lain, bahkan menembus batas teroterial Negara sekalipun.
Dari sisi hukum formal dan sistem norma yang berlaku di masyarakat, semua tindakan kriminal seharusnya diberikan hukuman yang setimpal dengan dampak yang dihasilkan. Sesuai dengan Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai individu.” Dengan adanya rasa takut dan cemas yang melanda masyarakat yang diakibatkan oleh terorisme, maka para teroris telah merampas hak asasi orang lain tentang rasa aman. Oleh karena itu, para pelaku teror layak mendapatkan hukuman yang setimpal, karena tidak ada yang lebih berharga di dunia ini daripada nyawa seseorang.
Yayan Saptawan, SH
Pemerhati Masalah Hukum dan HAM

Sumber : https://abovethefraymag.com/