Perguruan Tinggi Harus Tingkatkan Akreditasi Agar Dapat Bersaing


Perguruan Tinggi Harus Tingkatkan Akreditasi Agar Dapat Bersaing

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir meminta supaya perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri ataupun swasta supaya bisa menambah kualitasnya untuk mendapat akreditasi A. Hal ini guna merespons kendala dan peran perguruan tinggi dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.

Nasir mengatakan “Saya mendorong perguruan tinggi untuk menambah kualitasnya, baik swasta maupun negeri,” saat menghadiri Wisuda dan Dies Natalis Univeristas Nasional ke-70 di Jakarta, kemarin. Ia menyatakan, dibandingkan mula masa pemerintahannya terjadi lompatan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang sudah meraih akreditasi A.

Nasir melafalkan saat ini telah ada 96 perguruan tinggi di Indonesia yang sudah meraih akreditasi A, 13 di antaranya adalahperguruan tinggi swasta di Jakarta. Guru besar bidang akuntansi Undip ini berharap, perguruan tinggi baik tersebut negeri maupun swasta bisa menjadi penggerak inovasi membina negeri. Selain itu, perguruan tinggi bisa membangun sumber daya manusia dan IPTEK yang didapatkan sehingga bakal menjadi kekayaan yang tidak ternilai sebagai modal bangsa dalam percaturan global di era industri 4.0.

Rektor Universitas Nasional (Unas) El Amry Bermawi Putera menuliskan, Unas terus memacu supaya lulusannya siap menghadapi percepatan dan pengusaan teknologi informasi berbasis online demi menyongsong revolusi industri 4.0. Pendekatan digital yang diterapkan di universitas yaitu berupa sistem tata kelola perguruan tinggi berbasis online mulai etape input, proses, output, outcomes, dan impact.

“Tata kelola Universitas Nasional saat ini sudah menjangkau 80 persen berbasis online, 20 persen sisanya sedang dalam proses pengerjaan dengan target capaian pada tahun akademik 2019/2020. Dengan kata beda pada titik itu, Universitas Nasional bakal menjadi kampus yang berkategori cyber university atau smart campus,” tandasnya.

Amry mengatakan, kegiatan perkuliahan dan learning management system pun pembelajaran dan riset telah ditolong dengan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Berbagai inovasi dilaksanakan dalam bidang pembelajaran dua mata kuliah mesti universitas dan desain ulang kurikulum.

Hal ini dilaksanakan demi mencetuskan lulusan berkualitas, terampil dan dapat beradaptasi dengan revolusi industri 4.0. Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemenaker Bambang Satrio Lelono mengatakan, Indonesia mempunyai empat kendala ketenagakerjaan guna mewujudkan SDM yang unggul, kompeten, dan berdaya saing dalam menghadapi bonus demografi tahun 2020.

Pertama ialah profil angkatan kerja masih minim akan kemampuan di tengah lingkungan kerja yang terus berubah. “Hal ini disebabkan karena 60 persen kompetensi tenaga kerja nasional ialah lulusan/tamatan SD-SMP,” katanya pada seminar Pengembangan SDM Unggul guna Memanfaatkan Peluang Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju pada RPJMN 2020-2024.

Tantangan kedua ialah bonus demografi mesti direspons sebagai suatu keberkahan yang dominan positif untuk pembangunan SDM yang unggul. Prioritas dimulai di sektor kesehatan dan dilanjutkan dengan memperkuat pembangunan di sektor vokasi. Tantangan ketiga yaitu Indonesia memerlukan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih baik, khususnya yang mengarah untuk pasar kerja luwes dan pertumbuhan dunia ketika ini.

Tantangan keempat untuk menghadapi revolusi industri 4.0 yaitu angkatan kerja Indonesia mesti adaptif dan beranggapan cepat untuk menghadapi evolusi teknologi informasi yang masif ketika ini serta menciptakan transformasi industri guna menyiapkan adanya kegiatan baru di masa depan.

Sumber : http://www.seelensturm.net/wcf/acp/dereferrer.php?url=http%3A%2F%2Fwww.pelajaran.co.id