Pembelajaran Apresiasi Sastra

Pembelajaran Apresiasi Sastra

Pembelajaran Apresiasi Sastra

Pembelajaran Apresiasi Sastra
Pembelajaran Apresiasi Sastra

 

Pendidikan sastra melalui proses pembelajarannya merupakan

Pendidikan yang mencoba untuk mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra dan proses kreatif sastra. Kompetensi apresiasi adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Dalam hal ini siswa diajak untuk lansung membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal mulai dari nama-nama judul karya sastra atau sinopsisnya, tetapi langsung berhadapan dengan karya sastranya (Wahyudi, 2008: 168-169).

 

Pendidikan sastra yang mengapresiasi prosa rekaan misalnya

Akan mengembangkan kompetensi anak untuk memahami dan menghargai keindahan karya sastra yang tercermin pada setiap unsur prosa rekaan secara langsung membaca sastranya. Pada akhirnya pembelajaran ini mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan pikir, dan keterampilan berbahasa. Para siswa diajak untuk mengapresiasi sastra dengan berbagai pendekatan (historis, sosiologis, psikologis dan struktural) yang demikian itu akan membiasakan siswa untuk berfikir kritis, terbuka dan bersikap jujur.

Dengan melihat konsep dari tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia seperti yang termaktub dalam kurikulum 2004 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan secara umum adalah (1) agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas waasan kehidupan serta meningkatkan kemampuan dan pengetahuan berbahasa; (2) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Slamet, 2007:171).

 

Tujuan itu dijabarkan ke dalam kompetensi mendengarkan

Berbicara, membaca, dan menulis sastra. (1) Kemampuan mendengarkan (menyimak) sastra meliputi kemampuan mendengarkan, memahami dan mengapresiasi ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) baik karya asli maupun saduran sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. (2) Kemampuan berbicara sastra meliputi kemampuan membahas dan mendiskusikan ragam karya sastra sesuai isi dan konteks lingkungan dan budaya. (3) Kemampuan membaca sastra meliputi kemampuan membaca dan memahami berbagai jenis dan ragam karya sastra serta mampu melakukan apresiasi secara tepat. (4) kemampuan menulis sastra meliputi kemampuan mengekspresikan karya sastra yang diminati dalam bentuk sastra tulis yang kreatif berdasarkan ragam yang sudah dibaca.

Dengan demikian melalui sastra guru dapat mengembangkan siswa dalam hal keseimbangan antara spiritual, emosional, etika, estetika, logika dan kinestika, pengembangan kecakapan hidup, belajar sepanjang hayat, serta pendidikan kemenyeluruhan dan kemitraan (Wahyudi, 2008: 171).

Pada dasarnya kegiatan manusia dalam proses pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Witherington adalah,

  1. Bermain merupakan kegiatan spontan yang terjadi apabila fungsi jasmaniah normal keadaanya dan tidak mendapat pengaruh gangguan mental.
  2. Perhatian yaitu proses pemilihan satu rangsangan dari semua rangasangan yang lain yang pada suatu saat mengenai mekanisme penerima.
  3. Minat yaitu kesadaran seseorang bahwa suatu objek, orang, hal/keadaan, mempunyai hubungan/kepentingan. Minat harus dianggap sebagai respons sadar jika tidak, respons itu sama sekali tidak bermakna.
  4. Sikap yaitu kecenderungan berfikir/merasa dengan cara tertentu/dengan saluran tertentu/cara tingkah laku yang harus berkenaan dengan orang, kelompok/hal. Aspek ini dipengaruhi oleh idealnya standar nilai.
  5. Kebiasaan yaitu cara berbuat yang seragam, berlangsung agak otomatis dan dengan hanya/sedikit tanpa kesadaran.
  6. Keterampilan yaitu menuntut kesadaran dan perhatian yang bertingkat tinggi, kurang seragam dan tidak terus menerus (dalam Rusyana, 1984: 13) .

Kegiatan apresiasi sastra dapat membentuk pengalaman seseorang berkenaan

Dengan sastra sehingga menimbulkan perubahan dan penguatan tingkah laku orang itu. Dengan kegiatan ini seseorang mengalami belajar apresiasi. Dalam proses kegiatan apresiasi sastra berupa memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra dengan tujuan mengenal, memahami, dan menikmati nilai yang terkandung dalam sastra sehingga hasilnya terjadi perubahan/penguatan pada tingkah laku seseorang terhadap nilai yang tinggi yang terkandung dalam karya sastra.

Klasifikasi kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan meliputi : (a) Ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis. (b) Kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya. (c) Keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya.

Para siswa juga harus menggunakan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa: (1) memiliki kepekaan terhadap nilai ekstrinsik, dan (2) menyadari bahwa kedudukan sastra sebagai lembaga masyarakat. Menurut Rahmanto, pemilihan bahan pengajaran sastra harus memperhatikan aspek-aspek antara lain:

  1. Bahasa, aspek kebahasaan dalam sastra yang perlu diperhatikan adalah cara penulisan yang dipakai pengarang, ciri-ciri karya sastra waktu penulisannya dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang. Oleh karena itu, guru harus mengembangkan keterampilan untuk memilih bahan pengajaran sastra yang bahasanya disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa siswa.
  2. Kematangan jiwa (psikologi) yaitu dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis harus diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat berpengaruh terhadap minat dan keengganan siswa dalam pembelajaran sastra (1989: 27-33).
  3. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/

.

Dengan menganalisis fenomena, mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena itu yang kadang-kadang mengarah kepada pemikiran filsafati untuk menentukan keputusan-keputusan moral.