Nilai-Nilai Terapan pada Pengelolaan Kota


Nilai-Nilai Terapan pada Pengelolaan Kota

Nilai-Nilai Terapan pada Pengelolaan Kota

Nilai-Nilai Terapan pada Pengelolaan Kota
Nilai-Nilai Terapan pada Pengelolaan Kota

Alumni Arsitektur ITS dan Perencanaan Wilayah & Kota ITB.

Contoh-contoh penerapan pengelolaan kota di berbagai negara, diantaranya:

a. Kota Naga di Filipina, yang berhasil membangun kotanya melalui kepemimpinan J. Robredo yang secara politis tidak cukup kuat dalam memenangkan pemilihan sebagai walikota. Dengan kepemimpinannya, ia berusaha mengembalikan kepercayaan publik dengan membenahi pertama kali adalah kondisi manajemen balai kotanya. Robredo yang seorang pengusaha mulai menerapkan kaidah-kaidah manajemen seperti ketika ia memimpin perusahaan swasta agar lebih efisien dan efektif. Prinsip penting dalam kepemimpinannya adalah ia melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyusunan visi dan misi kotanya, serta dengan tegas dan konsisten melaksanakan misinya yaitu memberantas judi liar dan pornografi, disamping itu menumbuhkan inisiatif kegiatan ekonomi. Selanjutnya kunci keberhasilan kepemimpinannya adalah harus kompeten dan persiapan yang cukup untuk memenuhi tuntutan kepemimpinannya, mengembangkan kemampuan dan potensi sektor swasta untuk mendukung manajemen strategis.

b. Kota Olongapo di Filipina, keberhasilan kota ini adalah pelaksanaan peremajaan kota yang dilakukan oleh pemerintah kota. Semula kota ini adalah bekas pangkalan pelabuhan angkatan laut AS pada PD II, dimana kota ini dalam perkembangannya memiliki citra yang buruk karena banyaknya permukiman yang kumuh dan tempat prostitusi di daerah tersebut. Sehingga walikota berinisiatif untuk menghidupkan kembali kota tersebut sehingga terbebas dari citra buruk. Upaya yang dilakukan adalah dengan menggerakkan masyarakat kota untuk membangun kota secara kolektif. Strategi yang dijalankan walikota adalah dengan menciptakan situasi agar masyarakat awam diberi tanggung jawab dalam pembinaan kota, mereka dijadikan ”walikota mini” misalnya untuk menjaga kebersihan lingkungan, mencegah kejahatan dll. Sehingga masyarakat merasa memiliki terhadap kotanya sendiri. Efeknya masyarakat akan melakukan secara sukarela semua pekerjaan tersebut. Memberikan kepercayaan kepada masyarakat, jujur, dan juga menganjurkan agar saling mempercayai adalah faktor yang penting dalam memulai langkah-langkah strategis dalam mengelola kota.

c. Kota Colombo di Srilanka, telah lama menghadapi banyak tantangan dengan segala tingkatan keberhasilan. Namun saat ini dengan berbagai alasan apapun, baik secara moril dan produktifitas aparat dewan mengalami penurunan. Akibatnya ketika walikota yang baru sedang menjabat, dihadapkan pada persoalan untuk melakukan perubahan pada kota Colombo. Walikota kota Colombo mempunyai visi terhadap kotanya, yaitu: membuat Colombo sebagai kota yang modern, bersih dan bersahabat. Berikut beberapa program dan hal-hal yang dicapai yang berkaitan dengan usaha walikota sejak dibentuknya tim-tim tersebut adalah: (a) Meningkatkan Standing Comittees dan Partisipasi Oposisi (b) Keterlibatan Stakeholders (c) Pencapaian keberhasilan (Achievements). Beberapa perubahan yang dicapai oleh walikota kota Colombo adalah: (i) Strategi yang tepat dalam melibatkan stakeholder dan pihak-pihak lain (ii) Melakukan komunikasi secara reguler dengan semua pihak (iii) Memiliki tujuan yang jelas (iv) Komitmen dalam penyediaan pelayanan untuk publik (v) Kepercayaan diri dihadapan pihak oposisi, pemerintah luar negeri dan masyarakat.

d. Kota Ahmedabad di India, kunci keberhasilan kota Ahmedabad adalah kemampuan pemerintah dalam mengembalikan kredibilitasnya serta adanya dukungan masyarakatnya yang mulai bangkit kepercayaannya terhadap kinerja dan hasil nyata berupa pembangunan sarana dan prasarana. Selanjutnya pemerintah kota lebih membuka diri untuk membicarakan persoalan kota secara bersama-sama dengan masyarakat, sehingga partisipasi masyarakat mulai tumbuh. Sejalan dengan itu kredibilitas pemerintah semakin meningkat, kepercayaan pihak swasta semakin baik sehingga upaya yang dilakukan adalah melakukan kerjasama dan kemitraan dengan pihak swasta untuk menarik investasi untuk pembangunan prasarana, pengembangan kawasan perdagangan dan industri.

e. Kota Calcutta di India, menerapkan action planning dengan mendirikan sebuah perusahaan negara yang berbadan hukum (CMC/Calcutta Municipal Coorporation) untuk menjamin kesejahteraan masyarakat kota. Usaha-usaha yang dilakukan melalui CMC adalah reformasi struktural dan finansial. Upaya lain adalah dengan meningkatkan perencanaan tata guna lahan, komputerisasi, pembangunan infrastruktur, meningkatkan kemitraan dan partisipasi LSM, dan peningkatan di sektor swasta.

f. Kota Lahore di Pakistan, melakukan action planning terhadap permasalahan limbah padat melalui upaya kemitraan publik dan swasta.

g. Kota Dhaka di Bangladesh, penerapan action planning dengan melaksanakan sebuah pilot project dalam rangka Management Reform di kota Dhaka. Proyek ini diselenggarakan oleh Bangladesh Centre for Advanced Studies dan Bangladesh Rural Advancement Committee bekerjasama dengan ADB (Asian Development Bank). Tujuan proyek ini adalah untuk membangun kesadaran dan dukungan dari para stakeholder untuk mereformasi manajemen dalam pemerintahan kota Dhaka. Proyek ini menggunakan pendekatan participatory melalui pelibatan komponen administrasi kota, penyedia layanan, pembuat keputusan, masyarakat kota, organisasi masyarakat, dan media. Seluruh elemen masyarakat ini diikutsertakan dalam penyusunan lokakarya dalam wadah DCC (Dhaka City Corporation) untuk mengembangkan dewan penyusun Action Plan. Beberapa hal yang akan dikaji dalam pilot project ini adalah mengenai isu institusi, manajemen pembiayaan, manajemen limbah padat, dan beberapa hal umum lainnya.

h. Kota Clifton, di AS, mengembangkan suatu proyek yang bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai cara untuk melakukan tren-tren kunci sehingga berdampak pada pemerintah lokal, selanjutnya memilih isu utama, dan mengembangkan suatu kinerja yang strategis untuk rencana yang lebih baik di masa yang akan datang. Dalam proyek tersebut, diberdayakan suatu organisasi yang ada di kota Clifton yaitu The Planning Association of North Jersey untuk membantu proyek ini. Dalam proyek ini menghasilkan laporan yang bertujuan: (a) Menginformasikan pemilihan dan penentuan proyek utama (b) Menyediakan informasi yang membantu dalam membuat keputusan untuk masa depan kota itu (c) Menyediakan strarting point untuk rencana strategis masa depan kota Clifton. Setelah terjadi kesepakatan mengenai isu utama kota, kemudian isu tersebut disosialisasikan ke berbagai sektor kota, komisi dan departemen, sampai pada akhirnya dikembangkan dan diimplementasikan.

i. Kota Cleveland, di AS, penerapan strategic planning dalam menangani permasalahan keuangan. Permasalahan keuangan tersebut akhirnya dapat diatasi dengan menganggarkan keuangan dan perencanaan jangka panjang, dengan mengembangkan infrastruktur dan program pemeliharaan yang berkala.

Nilai-nilai penting yang dapat digali melalui pengalaman kota-kota di berbagai negara tersebut diatas adalah kepemimpinan, keberhasilan dalam manajemen pemerintahan dan organisasi, penanganan persoalan lingkungan hidup (pengelolaan sampah), partisipasi dan kemitraan, penerapan action planning dan strategic planning, pengentasan kemiskinan, peremajaan kota dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut hendaknya tidak hanya menjadi pembelajaran saja, namun tentunya bisa diterapkan secara baik oleh kota-kota di Indonesia.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/