Nilai Karakter yang Ditanamkan

Nilai Karakter yang Ditanamkan

Nilai Karakter yang Ditanamkan

Nilai Karakter yang Ditanamkan
Nilai Karakter yang Ditanamkan

Disiplin Menurut Sidjabat (2008: 179)

Banyak orang tua menduga bahwa kebutuhan anak mereka hanya terbatas pada makanan, minuman, pakaian, barang mainan dan pendidikan. Padahal anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Anak memerlukan rasa aman dan nyaman dalam keluarganya. Selain itu, disiplin pun merupakan salah satu kebutuhan dasar anak dalam rangka pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Dengan kedisiplinan yang ditanamkan orangtua secara baik dan benar, diharapkan anak dapat secara kreatif dan dinamis mengembangkan ketertiban hidupnya dikemudian hari.

 

Menurut Wangid, (2010: 7) disiplin adalah

Kemampuan menunjukkan hal yang terbaik dalam segala situasi melalui pengontrolan emosi, kata-kata, dorongan, keinginan dan tindakan. Hal senada dikemukakan oleh Tresnawati, (2012: 54) bahwa disiplin artinya ketaatan kita terhadap satu kesepakatan yang telah kita buat untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Tresnawati, (2012: 50) bahwa kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Disiplin inilah yang lahir dari rasa tanggung jawab yang tinggi dari seorang siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah.

 

Pribadi yang memiliki dasar-dasar

Dan mampu mengembangkan disiplin diri, berarti memiliki keteraturan diri berdasarkan acuan nilai moral. Sehubungan dengan itu, disiplin diri dibangun dari asimilasi dan penggabungan nilai-nilai moral untuk diinternalisasi oleh subjek didik sebagai dasar-dasar untuk mengarahkan perilakunya (Wayson, 1985: 227; dalam Shochib, 1998: 2).

Labih lanjut menurut Wayson, sebagaimana dikutip Shochib, (1998: 3) dijelaskan bahwa anak yang berdisiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama, nilai budaya, aturan-aturan pergaulan, pandangan hidup, dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Artinya, tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya, dirinya sendiri, sesama manusia, lingkungan alam dan makhluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral.

 

Senada dengan hal itu menurut Shochib (1998: 16)

Anak berdisplin diri dimaksudkan sebagai keteraturan perilaku berdasarkan nilai moral yang telah mempribadi dalam dirinya tanpa tekanan atau dorongan dari faktor eksternal. Dari kelima pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak untuk pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Selain itu disiplin adalah kemampuan untuk mengontrol emosi, kata-kata, dorongan, keinginan dan tindakan agar tercipta hal yang terbaik dalam segala situasi. Sikap disiplin juga mampu menumbuhkan ketaatan kita terhadap satu kesepakatan yang telah kita buat guna mencapai tujuan tertentu. Melalui pembiasaan sikap disiplin mampu menumbuhkan sikap tanggung jawab pada diri seseorang.

 

Tujuan Disiplin

Bernhard (dalam Shochib, 1998: 3), menyatakan bahwa tujuan disiplin diri adalah mengupayakan pengembangan minat anak dan mengembangkan anak menjadi manusia yang baik, yang akan menjadi sahabat, tetangga, dan warga negara yang baik. Dalam hal ini terdapat perbedaan yang fundamental antara keluarga di Barat dengan keluarga di Indonesia dalam mengupayakan anak untuk memiliki dasar-dasar dan mengembangkan disiplin diri. Hal ini karena keluarga di Indonesia dituntut selaras dengan isi yang dikandung oleh undang-undangan. Secara tersirat ada tanggung jawab pendidikan yang kodrati dalam memberikan keyakinan beragama ditempatkan pada urutan pertama dan menjadi dasar dari substansi lainnya.

Oleh sebab itu, tujuan pendidikan yang esensial dikeluarga Indonesia adalah pembinaan dan pengembangan kepribadian secara utuh dan terintegrasi. Lebih jauh, Ki Hajar Dewantara (1962) (dalam Shochib, 1998: 3-4), menyatakan bahwa esensi pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sedangkan sekolah hanya berpartisipasi. Karena produk utama pendidikan adalah disiplin diri maka pendidikan keluarga secara esensial adalah meletakkan dasar-dasar disiplin diri untuk dimiliki dan dikembangkan oleh anak menurut Santoso & Wayson, (dalam Shochib, 1998: 4).

Menurut Shochib (1998: 12) disiplin diri merupakan substansi esensial di era global untuk dimiliki dan dikembangkan oleh anak karena dengannya ia dapat memiliki kontrol internal untuk berperilaku yang senantiasa taat moral. Dengan demikian, anak tidak hanyut oleh arus globalisasi, tetapi sebaliknya ia mampu mewarnai dan mengakomodasi.

 

Dalam Sidjabat (2008: 187) Dr. James Dobson

Merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dan mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi orangtua dalam mendisiplinkan anak. Buku-bukunya yang mengemukakan gagasan disiplin ini ialah Dare To Disiplin (berani mendisiplin) (1970) dan Disiplin With Love (1983). Menurut Dobson, tujuan akhir disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar cara hidup bertanggung jawab. Beberapa prinsip Dobson yang dituangkan dalam karyanya The New Dare To Disiplin (1992) (dalam Sidjabat, 2008: 188 ), yang dapat saya kemukakan adalah sebagai berikut:

Pertama, orang tua harus mengembangkan rasa hormat dalam diri anak kepada orang tuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan dari dalam diri anak, melalui inisiatif orangtua dalam komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan penyediaan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan si anak. Dengan begitu anak belajar mengenal otoritas orang tuanya secara benar dan tepat.

Kedua, orangtua harus menghukum anak atas tingkah lakunya yang secara jelas memberontak atau menentang orang tua, melawan aturan yang sudah diterangkan dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Kemudian, orangtua harus memberitahukan mengapa ia melakukannya. Hukuman jangan diberikan kepada anak jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya. Sebab, anak mudah lupa atas pelanggarannya.

Ketiga, orang tua harus mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah berkepanjangan. Keempat, orang tua tidak seharusnya memberi sogokan kepada anak agar ia berlaku tertib.

Dari keempat pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari disiplin adalah upaya pengembangan minat seseorang dan mengembangkannya menjadi manusia yang baik. Melalui disiplin yang diterapkan dan dikembangkan oleh setiap individu dapat menumbuhkan kontrol internal dalam berperilaku yang senantiasa taat moral. Selain itu dengan disiplin seseorang diajarkan untuk bagaimana bersikap tanggung jawab.

Pola Perilaku Disiplin

Mandari, (2004: 112-114) menjelaskan bahwa pendekatan yang dipilih orang tua di rumah atau guru di sekolah amat menentukan pola perilaku disiplin anak. Ada dua jenis pola kedisiplinan anak. Pertama, disiplin yang menjadi sikap jiwanya. Mereka merasa senang dengan hidup disiplin. Kebiasaan disiplin lebih mempermudah pekerjaannya. Kedisiplinan menjadi semacam seni hidup, sehingga tidak mengungkung kesehariannya.

Disiplin jenis ini merupakan pola hidup yang membantunya hidup disiplin di mana saja, bahkan hal ini dapat menjadi pola yang sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan keadilan. Demikian pula kecerdasannya, termasuk ketelitiannya, akan sangat dipengaruhi oleh pola hidup disiplin yang dimilikinya. Umumnya, anak yang disiplin lebih cerdas. Meski demikian, ada beberapa kasus, anak disiplin tidak berprestasi tinggi. Hal ini kadang menjadi sanggahan atas pernyataan di atas, tapi kita dapat mengatakan bahwa jika tidak disiplin, besar kemungkinan mereka tak berprestasi sama sekali.

Kedua, disiplin sebagai sebuah tekanan dari orang lain bukan kehendak dirinya sendiri). Disiplin dianggap sebagai bagian dari pekerjaan yang memberatkan dan mengikat setiap perilakunya. Disiplin adalah sikap orang yang ditempelkan pada dirinya. Jiwanya tak mengenal disiplin sebagai suatu cara untuk mempermudah pekerjaan. Disiplin ‘tempelan’ ini justru akan mendorong sikap hipokrit (munafik; kebiasaan bermuka dua atau banyak).

Anak yang sering membohongi orang tua atau gurunya, pastilah hidup dengan pola disiplin yang rapuh. Oleh sebab itu pola perilaku disiplin, yang menjadi sikap jiwanya perlu dimiliki dan diterapkan pada setiap individu. Mereka merasa senang dengan hidup disiplin. Dengan kebiasaan disiplin mampu membawa kemudahan dalam setiap pekerjaan. Karena kedisiplinan sudah menjadi semacam seni hidup, sehingga tidak mengungkung kesehariannya.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/