Nasionalisme di Mesir

Nasionalisme di Mesir

Nasionalisme di Mesir
Pembahasan tentang Nasionalisme Mesir tidak bisa dilepaskan dari sejarah Terusan Suez. Dalam Era muslim menyatakan Terusan Suez udah dibangun pada era sebelum saat Firaun Cheops berkuasa. Para Fir’aun Mesir mengimpor bahan-bahan seperti kapur barus dari “daerah di balik matahari terbit”, yang dibawa menyusuri Laut Merah & menyeberangi gurun yang panas & terik bersama dengan dipanggul manusia atau onta menuju pus. Sebelumnya, di dalam Era muslim menyatakan terusan Suez udah dibangun pada era sebelum saat Firaun Cheops berkuasa. Para Firaun Mesir mengimpor bahan-bahan seperti kapur barus dari “daerah di balik matahari terbit”, yang dibawa menyusuri Laut Merah & menyeberangi gurun yang panas & terik bersama dengan dipanggul manusia atau onta menuju pusat pemerintahan atau daerah gudang. Perjalanan di gurun inilah yang sering memakan korban, baik tenaga kasar maupun cost yang kudu ditanggung kerajaan. Hal ini pasti memusingkan para pembesar Mesir. Akhirnya mereka memastikan untuk sebabkan sodetan panjangg yang menghubungkan Laut Merah bersama dengan Laut Tengah & membangun armada laut yang kuat.

Selama sebagian abad sesudah berakhirnya pemerintahan Sesostris, kebudayaan Indus terasa terasa mengalami kemunduran. Terusan Suez disebut sebagai Terusan Fir’aun pun terbengkalai, yang pada akhirnya tertutup pasir, karena tidak terurus, supaya sejarah mencatat sejak itu tidak tersedia ulang hubungan pada Mediteranian bersama dengan Samudera Hindia hingga seribut tahun sesudahnya. Sesostris udah memelopori ide yang tidak terlupakan, yaitu saat Fir’aun Necho (berkuasa pada abad ke-6 SM) memimpin armada Phoenician yang berlayar melingkari Afrika, ia bersiap-siap membangun ulang terusan baru dari cabang Pelusian di 100.000 korban jiwa. Proyek ini diteruskan oleh Darius I dari Sungai Nil menuju Laut Merah, pada 521 SM hingga 485 SM. Dan saat terusan ini tertutup ulang oleh sedimentasi alam, tertutup pasir & tanah, sebagian tahun sesudah itu dibuka ulang oleh orang-orang Athena, & dua abad sesudah itu oleh Ptolemy Philadelphus.

Robert Dick-Read mencatat, pemerintahan Romawi tidak mengurus terusan itu bersama dengan baik supaya tertutup kembali. Barulah pada akhir abad ke-1 M, Kekaisaran Trajan mengakses ulang Terusan Suez & dikelola oleh Hadrian & Antonines hingga akhir abad kedua M. Redupnya kekuasaan Romawi di sekitar Mesir sebabkan terusan Suez ulang tertutup pasir hingga di era awal cahaya Islam bercahaya di jazirah Arabia terusan itu dibuka ulang bersama dengan memudahkan pengiriman biji-bijian dari Mesir menuju Makkah. Pada abad ke-8 M, Al-Mansur memerintahkan supaya terusan selanjutnya ditutup ulang bersama dengan alasan keamanan, menahan ancaman dari timur. Terusan Suez atau Terusan Fir’aun itu pun bersama dengan sengaja ditutup sepanjang berabad-abad, hingga datangnya era Ferdinand Vicomte de Lesseps.

Pada tahun 1854, Ferdinant de Lesseps mendapat konsesi dari Khedif Mesir, Said Pasha untuk menggali Terusan Suez. Di Prancis dibentuk perusahaan Compagnie Universelle du Canal Maritime de Sues untuk laksanakan konsesi itu. Mesir punya 44% dari seluruh saham terusan Suez. Penggalian di awali pada tahun 1859 & selesai pada tahun 1869. Terusan Suez terlalu penting peranannya bagi dunia karena tidak hanya memperpendek jarak hubungan pada Eropa & Asia, tetapi juga merupakan urat nadi hubungan Eropa-Asia.

Akibat dibukanya Terusan Suez pada lain;
Negara-negara disekitar Laut Tengah jadi terlalu penting bagi perdagangan.
Pantai utara Afrika jadi rebutan negara-negara imperialis Barat terlebih Mesir.
Selat Malaka jadi ramai.
Prosee Eropanisasi bangsa Asia jadi dipercepat.
Paham-paham baru seperti Liberalisme masuk ke Asia supaya mengakibatkan nasionalisme Asia.
Untuk menjaga kelestariannya maka Terusan Suez mendapat status internasional sesudah ditandatanganinya perjanjian Konstatinopel yang membuahkan Suez Canal Convention pada tahun 1887 yang isinya;
Terusan Suez kudu tetap terbuka bagi seluruh kapal dagang & kapal perang dari seluruh negara, baik pada era perang maupun era damai.
Tidak boleh diadakan blokade pada Terusan Suez.
Berpijak dari pentingnya Terusan Suez baik dari faktor ekonomi maupun militer, maka Inggris berusaha keras untuk menguasainya. Pada selagi Khedif Ismail dari Mesir memerlukan utang duit maka Inggris tidak menyia-nyiakan peluang supaya sesudah itu dijuallah saham-sahamnya kepada Inggris. Pada selagi Mesir memerlukan dana lagi, maka Inggris & Prancis menambahkan pinjaman. Mesir akhirnya tidak bisa melunasi hutang-hutangnya supaya Inggris & Prancis memasuki Mesir & ikut serta mengelola Terusan Suez. Bahkan jabatan menteri keuangan Mesir dijabat oleh orang Inggris. Campur tangan Inggris & Prancis yang terlalu jauh, terlebih di dalam urusan perekonomian Mesir & pengelolaan Terusan Suez pada akhirnya mengakibatkan nasionalisme Mesir.

Panglima tentara Mesir yaitu Arabia Pasha laksanakan pemberontakan & memaksa Khedif Tewfik mengganti dewan menterinya bersama dengan orang-orang Mesir yang berjiwa nasionalis, tetapi kabinet itu dibubarkan oleh Inggris & Prancis. Sebagai reaksi atas sikap Inggris & Prancis, rakyat Mesir membunuh seluruh orang Inggris & Prancis yang tersedia di Mesir. Prancis tidak berani bertindak karena kuatir bakal mengakibatkan krisis internasional. Berbeda bersama dengan Prancis, Inggris bertindak sendiri bersama dengan menindas Arabia Pasha. Mesir tetap masih jadi vasal Turki. Meskipun Khedif Mesir yang memerintah, tetapi yang memerintah Mesir memang adalah Inggris. Sedangkan Prancis udah kehilangan haknya di Mesir. Pada selagi meletus Perang Dunia I, Mesir yang jadi Boneka Inggris menunjukkan perang kepada Turki. Hal ini artinya Mesir membiarkan diri dari Turki. Khedif Abbas Hilmi yang pro Turki diganti oleh Inggris bersama dengan Hussein Kammi yang diberi pangkat Sultan.

Sebenarnya nasionalisme Mesir tidak padam, lebih-lebih makin bangkit. Pada 1907 diadakan kongres Nasionalis I yang dipimpin oleh Mustafa Namil. Gerakan Nasionalisme Mesir jadi terlalu kuat di bawah pimpinan Zaghlul Pasha. Partai Wafd yang dipimpinnya menurut supaya Mesir ikut serta di dalam konferensi perdamaian di Paris. Inggris menolak tuntutan itu supaya terjadilah pemberontakan. Inggris pada akhirnya tidak bisa membendung nasionalisme Mesir supaya pada tahun1922 Inggris mengeluarkan Unilateral Declaration, yang isinya;
Inggris mengakui kedaulatan & kemerdekaan Mesir
Inggris masih berhak mengatur urusan di dalam 4 hal pokok, yakni; (1) Mempertahankan Terusan Suez, (2) Menggunakan Mesir untuk operasi militer, (3) Mempertahankan Mesir dari serangan bangsa lain, (4) Melindungi bangsa asing di Mesir.

Unilateral Declaration itu hanya dibikin oleh satu pihak saja, yaitu Inggris, supaya kaum nasionalis Mesir terasa belum puas bersama dengan isi perjanjian itu. Pada tahun 1936 diadakan perjanjian pada Inggris & Mesir. Inti perjanjian itu adalah bahwa Inggris & Mesir bakal saling membantu jikalau salah satu pihak di serang oleh musuh. Selain itu, tentara Inggris bakal ditarik dari Mesir kendati sebanyak 10.000 orang tentara Inggris yang masih bertahan untuk menjaga Terusan Suez.

Pada selagi Perang Dunia II, Mesir tidak mengidamkan segera membantu Inggris melawan Jerman & Jepang. Setelah mendapat desakan Inggris baru Mesir senang membantu pada selagi Perang Dunia II bakal berakhir, pada tahun 24 Februari 1945. Setelah Perang Dunia II selesai, Inggris masih tetap tinggal di Mesir supaya sebabkan berkobarnya ulang nasionalisme Mesir. Inggris mengerti hal itu supaya pada tahun 1954 Inggris mengadakan perjanjian bersama dengan Gamal Abdul Nasser sebagai Perdana Menteri Mesir. Inggris menunjukkan bahwa Terusan Suez bakal segera diserahkan kepada Mesir.

Pada tanggal 23 Juli 1952 berlangsung revolusi di Mesir yang diakibatkan oleh kekalahan Mesir di dalam perang melawan Israel. Setelah diselidiki penyebab kekalahan itu ditemukan adanya korupsi besar-besaran di dalam hal pembelian senjata. Opsir-opsir muda di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser mendesak raja Farouk untuk menuntaskan masalah itu tetapi tidak diperhatikan. Pada tanggal 23 Juli 1952 terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Muhammand Najib. Raja Farouk sukses digulingkan dari tahtanya. Muhammad Najib sesudah itu memegang pemerintahan Mesir sebagai diktator militer sepanjang tiga tahun. Keditatoran Muhammad Najib ditunjukkan bersama dengan dibubarkannya seluruh partai. Pada tanggal 18 Juni 1953, Mesir jadi republik & Najib terpilih jadi Presiden yang pertama sedangkan Gamal Abdul Nasser sebagai Perdana Menterinya. Dalam pertumbuhan selanjutnya, Muhammad Najib mengidamkan mengembalikan pemerintahan parlementer, tetapi Gamal Abdul Nasser tetap mengidamkan mempertahankan pemerintahan revolusioner. Akibat dari pertentangan itu maka itu timbul saling adu kemampuan pada Muhammad Najib & Gamal Abdul Nasser. Pada tanggal 14 November 1954, Muhammad Najib diberhentikan sebagai presiden Mesir karena dituduh terkait bersama dengan Gerakan Ihwanul Muslimin yang berusaha membunuh Gamal Abdul Nasser. Dalam penentuan Presiden pada tahun 1954, Gamal Abdul Nasser terpilih jadi presiden.

Meskipun tentara Inggris udah meninggalkan Terusan Suez, tetapi keuntungan masih masuk kepada para pemegang saham, yaitu orang Inggris, padahal Mesir memerlukan duit sebesar $ 1300 juta untuk pembiayaan proyek Aswan. Pada hari peringatan Revolusi Mesir pada tahun 1956, Gamal Abdul Nasser mengumumkan bahwa sejak hari itu Terusan Suez dinasionalisasi & kepada para pemegang saham bakal diberi tukar rugi cocok bersama dengan kurs saham pada hari itu juga. Tindakan Gamal Abdul Nasser itu menggemparkan seluruh dunia, terlebih Inggris & Prancis. Pada Oktober 1956 secara tiba-tiba, Inggris, Prancis & Israel menyerang Mesir, tetapi PBB segera bertindak & mengecam ketiga negara itu sebagai agresor.

Sumber : https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

Baca Juga :