Kemenkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI


Kemenkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI

Kemenkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI

Kemenkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI
Kemenkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI

TEKNOLOGI telekomunikasi terus mengalami perkembangan termasuk teknologi satelit. Setelah satelit geostasioner (satelit GEO) diluncurkan pada 4 Oktober 1957, perkembangan teknologi satelit pun terus berkembang pesat.

Bahkan kini teknologi satelit Medium Earth Orbit (MEO) dan Low Earth Orbit Satellite (satelit LEO) sudah mulai dikomersialkan. Sementara itu, High Altitude Platform System (HAPS) wahana baru ruang angkasa ini sudah mulai diujicoba.

Teknologi ini menyediakan layanan wireless broadband mirip dengan satelit. Namun beroperasi pada ketinggian 5-20 km di lapisan stratosfer dan mampu menjangkau area seluas 1000 km persegi.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, memperkirakan

wahana ruang angkasa dengan orbit rendah ini akan segera masuk ke Indonesia. Karena beroperasi di orbit rendah, cakupan layanan yang diberikan wahana ruang angkasa orbit rendah tidak sebesar GEO.

Meski cakupannya tak sebesar satelit GEO, namun HAPS, LEO maupun MEO dapat memberikan layanan broadband layaknya satelit GEO. Karena berada di orbit rendah, harga yang ditawarkan oleh teknologi terbaru ini jauh lebih murah ketimbang satelit GEO.

Karena benefit yang sama dan harga yang jauh lebih murah ketimbang GEO, diperkirakan teknologi terbaru mirip satelit ini bisa dimplementasikan di Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi karena kendala geografis yang sulit.

Analogi sederhananya ibarat lampu-lampu yang menerangi suatu rumah. Jika ingin menerangi sudut ruangan, cukup menyalakan 1-2 lampu yang memancar ke sudut ruangan tersebut, tidak perlu menyalakan semua lampu yang mengakibatkan pemborosan..

Dengan benefit harga murah dan kemampuan memberikan layanan

broadband tersebut, Heru yakin wahana ruang angkasa orbit rendah ini akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan Proyek Satelit Multi Fungsi (SMF) Satelit Indonesia Raya (SATRIA) yang saat ini tengah digarap oleh Komenkoinfo melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

Satelit SATRIA yang dicanangkan oleh BAKTI menggunakan teknologi GEO

. Dengan investasi yang sangat spektakuler mencapai Rp 21,4 triliun. Dana tersebut belum termasuk pengadaan ground segment dan backhaul.

 

sumber :

https://apkmod.co.id/