Kekalahan atau Kemenangan NU


Kekalahan atau Kemenangan NU

Kekalahan atau Kemenangan NU

Akhirnya, kekhawatiran itu terjadi juga. 4 orang kader NU maju sebagai kontestan dalam Pemilihan Gubernur Jatim 2008. Soekarwo-Gus Ipul (PAN-PPP), Soenaryo-Ali Maschan Moesa (GOLKAR), Achmady(PKB), Khofifah-Mujianto(PPP), Soetjipto-Ridlwan Hisyam(PDI Perjuangan). Hitungan itu dianggap benar bila Ridlwan Hisyam, seorang kader GOLKAR, dianggap memiliki kultur nahdliyyin juga. Seorang pengurus Anshor menceritakan situasi di cabang sekarang sudah tidak kondusif. Masing-masing mencoba saling mengintip, saling mengintai, saling mencari celah demi kepentingan calo masing-masing. Tak jarang rapat-rapat tim sukses juga diadakan di kantor cabang, meski sembunyi-sembunyi.

Pertarungan di tingkat elit juga tidak kalah serunya. Ali Mascham Moesa, Ketua PWNU Jatim, sampai hati mendemonstrasikan “keteguhan hatinya” melawan sikap Syuriyah yang menuntut pengunduran dirinya karena dianggap berhalangan tetap. Syaifullah Yusuf, Ketua GP Anshor, “beradu pantun” dengan Hasyim Muzadi perihal penegakan nilai-nilai organisasi. Demikian pula dengan Khofifah Indar Parawansa yang ,mau-tidak mau, harus melibatkan Muslimat meramaikan pertempuran.

NU Ku Sayang, NU Ku Malang
Sejak dulu NU memang dianggap sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan. Dalam setiap hajatan politik berskala lokal-regional-nasional massa NU selalu dilirik banyak parpol. Pada banyak kasus, cara termudah menarik massa NU adalah dengan mencalonkan kader NU struktural. Beragam respon yang muncul dapat diungkap terkait keterlibatan kader NU struktural dalam arena Pilgub Jatim 2008. Pertama, setiap kader NU struktural wajib mundur dari jabatannya karena telah melanggar AD/ART Organisasi. Tak tanggung-tanggung, Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi harus “turun gunung” menyatakan keberatan atas majunya Syaifullah Yusuf tanpa non aktif sekalipun yang bersangkutan pernah maju dalam pilpres 2004 silam dan masih menjadi ketua hingga saat ini.Kedua, keterlibatan kader NU struktural hanya akan “membingungkan” warga NU. Suara nahdliyyin akan terpecah belah dan ini merugikan kepentingan NU. Soal perlunya NU ambil bagian dalam politik, mungkin, sudah tidak perlu diperdebatkan lagi namun melihat ada 4-5 calon dari NU pada saat yang sama adalah “aneh tapi nyata”. Ketiga, Khofifah adalah satu-satunya calon dari NU yang tampil sebagai Calon Gubernur Jatim. Sedangkan sisanya “hanya” sebagai calon wakil gubernur, sebuah jabatan “pelengkap” dalam struktur pemerintahan daerah kita. Padahal resiko yang diambil, konflik horizontal-konflik internal, terlalu besar dibandingkan dengan manfaat yang, mungkin, didapat. Bila alur berfikir ini disepakati maka dalam pilgub 2008 nanti warga NU tak ubahnya seperti sedang minum khomr dan berjudi, wa itsmuhuma akbaru min naf’ihimaa, dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.

Baca Juga :