Kehidupan Manusia Masa Praaksara

Kehidupan Manusia Masa Praaksara

Kehidupan Manusia Masa Praaksara

Kehidupan Manusia Masa Praaksara
Kehidupan Manusia Masa Praaksara

Cara hidup manusia praaksara pada jutaan tahun lampau, kehidupan mereka terlampau sederhana karena ada keterbatasan dalam volume otaknya. Menurut par akhli, volume otak mereka memang masih terlampau kecil sehingga mengalami keterbatasan di dalam menemukan cara untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Dari waktu ke waktu volume otak itu mengalami perubahan dan perkembangan sehingga mereka semakin terampil dalam menggunakan dan membuat beragam peralatan.

1. Mengenal Praaksara

Praaksara atau prasejarah merupakan suatu kurun waktu terpanjang dalam sejarah  manusia, yakni sejak hadirnya manusia di bumi hingga ditemukannya pengetahuan tentang tulisan atau aksara yang menandai era sejarah. Penelitian di bidang prasejarah berupaya menjelaskan kehidupan manusia purba melalui peninggalan-peninggalan mereka. Peninggalan itu  meliputi sisa-sisa tulang belulang manusia maupun benda-benda (artefak) yang pernah dibuat, dipakai, atau dibuang oleh  mereka. Benda-benda alam seperti tulang hewan (ekofak), cangkang kerang, atau arang sisa pembakaran juga diperlajari untuk mengetahui bentuk interaksi antara manusia purba dengan alam sekitarnya.

 Zaman praaksara sering disebut zaman nirleka, yakni kurun waktu kehidupan manusia yang belum mengenal tulisan.

Kehidupan manusia diperkirakan dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka berburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai yang subur. Kehidupan semacam itu diperkirakan berlangsung selama satu juta tahun. Dalam perkembangannya, mereka mulai menggunakan peralatan batu yang masih sederahana. Dari bukti yang berhasil ditemukan, sisa artefak yang berupa alat-alat kapak batu di Pacitan diperkirakan berasal dari masa 800.000 tahun yang lalu.

Manusia prasejarah itu mulai mengenal atau membuat kehidupan meskipun dalam pengertian yang teramat sederahana. Beragam peralatan batu itu diperkirakan pernah digunakan untuk menguliti dan memotong daging buruan.

Permasalahan yang menarik untuk diteliti, yakni cara manusia purba itu dapat bertahan sedemikian lama. Beberapa ahli berpendapat bahwa manusia purba itu telah berkelompok untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Artinya, mereka telah membentuk masyarakat sendiri. Salah satu kasus yang digunakan oleh para ahli adalah saat mereka harus menangkap binatang buruan. Untuk menangkap seekor binatang, tentu diperlukan adanya kerja sama di antara anggota kelompok. Kita tidak dapat membayangkan yang akan terjadi seandainya mereka tidak saling berkerja sama satu dengan yang lain saat berburu binatang. Saat mereka mau menangkap binatang buruan, tentu ada yang mengejar, melempar dengan batu, dan memanah dengan mata tombak.

Setelah binatang buruan tertangkap, pekerjaan belum selesai. Mereka secara bersama-sama membawa binatang itu ke gua yang dijadikan tempat tinggal. Selanjutnya, mereka menggunakan peralatan dari batu itu untuk menguliti dan membaginya. Tidak mengherankan jika di dalam gua-gua yang diduga pernah digunakan sebagai tempat tinggal manusia prasejarah itu bisa ditemukan tulang belulang binatang.

2. Periodisasi Masa Praaksara

Untuk mengetahui perkembangan manusia sejak awal kehidupannya, perlu terlebih dahulu mempelajari periodisasi atau pembabakan zaman di muka bumi. Pembabakan dapat dilakukan secara geologis, arkeologis, dan perkembangan kehidupan manusia. Berikut ini, tiga pembabakan atau periodisasi itu;

a. Periodisasi Menurut Geologis

Geologis atau ilmu bumi yakni ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Menurut ahli geologi, sejarah  perkembangan bumi dapat dikelompokan menjadi empat periode zaman, yakni zaman arkaekum, palaeozoikum, mesozoikum, dan neozoikum. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/)

1) Arkaekum
Zaman ini berlangsung kira-kira selama 2500 juta tahun. Pada saat itu kulit bumi masih panas sehingga belum terdapat kehidupan.

2) Palaezoikum
Zaman ini berlangsung selama 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, amfibi, reptil, dan binatang yang tidak bertulang punggung. Zaman ini sering disebut juga zaman primer.

3) Mesozoikum
Zaman ini  berlangsung kira-kira selama 140 juta tahun. Pada zaman ini pertengahan ini, jenis reptil mencapai tingkat yang terbesar sehingga pada zaman ini sering juga disebut zaman reptil. Zaman ini sering disebut juga zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan. Setelah berakhirnya zaman ini, maka muncul kehidupan yang lain, yakni jenis burung dan binatang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Adapun jenis reptilnya mengalami kepunahan.

4) Neozoikum
Zaman ini sering disebut zaman hidup baru yang dapat dibedakan menjadi 2 zaman, yakni;
a) Tersier atau zaman ketiga
Zaman ini berlangsung kira-kira selama 60 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan perkembangan jenis binatang menyusui seperti kera.
b) Kuartier atau zaman keempat
Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini  dibagi lagi menjadi 2 zaman, yakni zaman Pleistocen dan Holocen. Zaman Pleistocen atau Dilluvium berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman Holocen atau Alluvium berlangsung kira-kira selama 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini, ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia yang hidup pada zaman modern sekarang.

b. Periodisasi Berdasarkan Arkeologis

Pembabakan zaman praaksara ini berdasarkan pada benda-benda peninggalan yang dihasilkan oleh manusia. pembabakan zaman  praaksara menurut penemuan benda-benda peninggalan adalah sebagai berikut;
1) Zaman Batu
Zaman batu adalah zaman ketika sebagian besar perkakas penunjang kehidupan manusia terbuat dari batu. Zaman batu dibagi menjadi 3 zaman, yakni;
a) Zaman Batu Tua / Palaeolithikum
zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada alam. Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu, mengumpulkan buah-buahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup seperti ini dinamakan food gathering. Jenis peralatan yang digunakan pada zaman batu tua terbuat dari batu yang masih kasar, seperti kapak genggam (Chopper), kapak penetak (Chopping tool), peralatan dari tulang dan tanduk binatang, serta alat serpih (flake) yang digunakan untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.
b) Zaman Batu Pertengahan / Mesolithikum
Zaman Batu Pertengahan (Mesolithikum) diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam. Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yakni berbutu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan. Mereka juga sudah mulai hidup menetap di gua, tepi sungai, maupun tepi pantai.
Alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan  alat-alat pada zaman Palaeolithikum, hanya sudah sedikit dihaluskan. Peralatan yang dihasilkan pada zaman Mesolithikum, antara lain kapak Sumatera (pebble), sejenis kapak genggam yang dibuat dari batu kali yang salah satu sisinya masih alami; kapak pendek (hache courte), sejenis kapak genggam dengan ukuran yang lebih kecil; pipisan, batu-batu penggiling beserta landasannya; alat-alat dari tanduk dan tulang binatang; mata panah dari batu dan juga flake. Adapun hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan manusia purba pada zaman batu pertengahan adalah sebagai berikut;
  • Ditemukannya Kjokkenmoddinger, yakni bukit-bukit karang hasil sampah dapur.
  • Ditemukannya Abris Sous Roche, yakni gua-gua karang sebagai tempat tinggal.
  • Manusia pada zaman ini sudah mengenal seni yang berupa lukisan pada dinding gua. Lukisan itu berbentuk cap tangan dan babi hutan.
c) Zaman Batu Muda / Neolithikum
Pada zaman batu muda, kehidupan manusia praaksara sudah berangsur-angsur hidup menetap tidak lagi berpindah-pindah. Manusia pada zaman ini sudah mulai  mengenal cara bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana, selain kegiatan berburu yang masih tetap dilakukan. Manusia purba pada masa neolithikum sudah bisa menghasilkan bahan makanan sendiri atau biasa disebut food producing.
Peralatan yang  digunakan pada masa neolithikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang berbentuk sangan indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat anak panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan keperluan lainnya.