Kebebasan Berpikir dan Berbuat


Kebebasan Berpikir dan Berbuat

Kebebasan Berpikir dan Berbuat

Kebebasan Berpikir dan Berbuat

Dalam kaitannya dengan keperluan kajian akhlak

tampaknya pendapat yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan yang akan dilakukannya sendiri. Sementara golongan yang menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kebebesan juga akan di bahas di sini dengan menentukannya secara proporsianal.

Kebebasan sebagaimana dikemukakam oleh Achmad Charis Zubair adalah terjadinya apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak di batasi oleh suatu paksaan dari atau keterikatan kepada orang lain.Paham di sebut dijelaskan bebas negative, karena hanya dinyatakan bebas dari apa, tetapi tidak di tentukan bebas untuk apa. Seseorang di sebut bebas apabila:

   1). Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuan dan apa yang di lakukannya.

            2). Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang ada baginya.

3).Tidak di paksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang akan di pilihnya sendiri     ataupun di cegah dari berbuat apa yang di pilih sendiri, oleh kehendak orang lain, negara atau kekuasaan apapun.

    Berpikir sebagai kegiatan filsafati individual memang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan komunal atau sosial, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa implikasi dari hasil sebuah pemikiran akan memasuki pada ranah-ranah kehidupan sosial. Dengan demikian, pertanyaannya adalah mungkinkah manusia berpikir bebas sebebas-bebasnya atau justru kebebasan itu akan membawa manusia kepada ketidakbebasan ketika harus dihadapkan dengan hak kebebasan sesama manusia yang lain dalam ranah kehidupan sosial.

    Untuk memudahkan pembacaan dalam persoalan tersebut dipetakan dalam tiga bilik kategori yaitu berpikir disertai dengan berbuat, berpikir tidak disertai dengan berbuat dan berbuat tidak didasari dengan berpikir.Secara ontologis kebebasan berpikir tidak terikat dengan nilai, tetapi implikasi kebebasan berpikir itu secara aksiologis ketika ada pada ranah sosial dan mewujud dalam bentuk perbuatan, maka dibatasi dengan tanggungjawab dan moral.

            Dengan kata lain ketika berpikir disertai dengan berbuat maka tidak bebas nilai dan konsekuensinya akan ada sanksi ketika tidak sesuai dengan nilai atau norma yang disepakati. Inilah yang dimaksud dengan “ruang bertemu” antara kebebasan berpikir dan etika.Namun ketika berpikir tidak disertai dengan berbuat, maka bebas sebebas-bebasnya dan tidak mempunyai konsekuensi sanksi.

            Keterangan-keterangan di atas dengan jelas mengatakan bahwa kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia melalui pikirannya.Tetapi selanjutnya tidak jelas apakah daya yang dipakai untuk mewujudkan perbuatan itu adalah pula daya manusia sendiri.Dalam hubungan ini perlu kiranya ditegaskan bahwa untuk terwujudnya perbuatan, harus ada kemauan atau kehendak itu, dan kemudian barulah terwujud perbuatan.

            Dari al-Asy’ari ini jelaslah bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, Tuhanlah yang menjadi pembuat sebenarnya dari perbuatan-perbuatan manusia.Oleh karena itu dalam teori kasb sebenarnya tidaklah ada perbedaan antara al Kasb dengan perbuatan involunter dari manusia.Pembuat dalam hal ini seperti ditegaskan oleh al-Asy’ari sendiri adalah Tuhan; dan selanjutnya dalam kedua hal itu, manusia hanya merupakan tempat berlakunya perbuatan-perbuatan Tuhan. Keterangan al-Asy’ari ini juga mengandung arti bahwa daya untuk berbuat sebenarnya bukanlah daya manusia, tetapi daya Tuhan.

            Untuk memperkuat paham tersebut, kaum mu’tazilah membawa argumen-argumen rasional dan ayat-ayat Al-Qur’an. Ringkasan argumen-argumen rasional yang dimajukan oleh Abd al-Jabbar umpamanya, adalah sebagai berikut:  manusia dalam berterima kasih atas kebaikan-kebaikan yang diterimanya, menyatakan terima kasihnya kepada manusia yang berbuat kebaikan itu. Demikian pula dalam melahirkan perasaan tidak senang atas perbuatan-perbuatan tidak  baik yang diterimanya manusia menyatakan rasa tidak senangnya kepada orang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tidak baik itu. Sekiranya perbuatan-perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia, tentunya rasa terima kasih dan rasa tidak senang itu akan ditujukan manusia kepada Tuhan dan bukan kepada manusia.

            Berbeda dengan kaum mu’tazilah, paham al-Asy’ari berpendapat bahwa bentuk kebebasan manusia tidak mutlak, bahwa manusia adalah tempat belakunya pembuatan Tuhan, perbuatan-perbuatan Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia.

            Jadi daya atau kebebasan manusia sangatlah terbatas, sebab untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya manusia sangat tergantung pada kehendak Tuhan.Ini jelas mengandung arti kehendak manusia atau kebebasan manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. Dan bahwa kehendak yang ada dalam diri manusia sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan, kemauan dan kebebasan untuk berbuat adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia.


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/