Beberapa masalah pokok dalam pengembangan kesehatan reproduksi remaja


Beberapa masalah pokok dalam pengembangan kesehatan reproduksi remaja adalah:

  1. Melakukan advokasi untuk memperoleh dukungan masyarakat dalam kesehatan reproduksi.
  2. Melibatkan remaja pada aktivitas yang positif.
  3. Pelayanan klinik yang ramah bagi remaja.
  4. Memberikan informasi yang ramah bagi para remaja.
  5. Kontrasepsi untuk remaja.
  6. HIV dan PMS bagi remaja.
  7. Memenuhi kebutuhan remaja sesuai tingkatan usia.
  8. Kehamilan dini dan kehamilan tidak diinginkan.
  9. Pendidikan seksualitas berbasis sekolah.
  10. Mengembangkan keterampilan untuk mengahadapi kehidupan.

Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bagi semua orang akan memeberikan kontribusi besar terhadap pencapaian status kesehatan reproduksi masyarakat yang lebih baik. Di lain pihak, pelayanan kesehatan reproduksi belum menyentuh sebagian besar remaja sehingga status kesehatan reproduksi mereka relatif rendah. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan petugas kesehatan diharapkan memahami permasalahan-permasalahan kesehatan reproduksi remaja sehingga mempunyai kepedulian terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).

Untuk mengatasi masalah kesehatan remaja diperlukan pendekatan yang adolescent friendly, baik dalam menyampaikan informasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), yang diharapkan menyediakan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah dan memenuhi kebutuhan remaja.

Penyebaran informasi mengenai kesehatan remaja dapat diperlukan karena masalah kesehatan remaja belum cukup dipahami oleh berbagai pihak, maupun oleh remaja sendiri. Informasi ini sesungguhnya berguna untuk:

  1. Meningkatkan pemahaman berbagai pihak mengenai kesehatan remaja dan bagaimana berinteraksi dengan remaja.
  2. Menyiapkan remaja untuk menghadapi masalah kesehatan remaja dan mendorongan remaja agar bersedia membantu teman sebayanya.
  3. Membuka akses informasi dan pelayanan kesehatan remaja melalui sekolah maupun luar sekolah.

Perkawinan yang Sehat

Perkawinan adalah merupakan ikatan yang suci, yang dibangun dengan bertujuan untuk :

  1. Meneruskan keturunan atau melangsungkan reproduksi.
  2. Membentuk generasi yang berkualitas.
  3. Mencapai kebahagian.
  4. Merupakan bagian dari ajaran agama.
  5. Menjadi dasar untuk membentuk keluarga yang sehat.

Perkawinan yang sehat memenuhi kriteria umur calon pasangan suami isteri ketika melangsungkan perkawinan adalah memenuhi umur kurun waktu reproduksi sehat, yaitu umur 20-35 tahun, terutama untuk calon isteri atau  calon ibu, karena hal ini berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita. Secara biologis organ reproduksi sudah cukup matang apabila terjadi proses reproduksi obstetrik, yaitu kehamilan, persalinan, nifas, menyusui. Secara psikososial pada kisaran umur tersebut wanita mempunyai kematangan mental yang cukup memadai untuk menjadi ibu dan membina perkawinan yang sehat, mampu menjalin interaksi dengan keluarga dan masyarakat. Secara sosial demografi pada kelompok umur tersebut, wanita sudah menyelesaikan proses pendidikan menegah ke atas dan mulai meniti karir, sehingga dapat menjadi salah satu modalitas membina perkawinan dalam aspek sosial, ekonomi. Perkawinan yang sehat memenuhi kaidah kesiapan pasangan suami isteri dalam aspek biopsikososial, ekonomi dan spiritual. Perkawinan yang sehat juga didasari landasan agama sebagai dasar spiritual rumah tangga. Secara komprehensif perkawinan yang sehat akan membentuk kebahagiaan lahir dan batin.

Baca juga: