Bahasa Indonesia Jadi Bentuk Diplomasi Indonesia dan Timor Leste

Bahasa Indonesia Jadi Bentuk Diplomasi Indonesia dan Timor Leste

Bahasa Indonesia Jadi Bentuk Diplomasi Indonesia dan Timor Leste

Bahasa Indonesia Jadi Bentuk Diplomasi Indonesia dan Timor Leste
Bahasa Indonesia Jadi Bentuk Diplomasi Indonesia dan Timor Leste

Indonesia — Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA)

merupakan salah satu program yang menjadi bentuk diplomasi lunak (soft diplomacy) antara Indonesia dengan negara lain. Tahun ini, untuk pertama kalinya Timor Leste menjadi salah satu negara yang aktif mengirimkan tenaga pengajar BIPA ke Indonesia untuk mempelajari bahasa Indonesia. Pengajar BIPA tersebut selanjutnya akan kembali ke Timor Leste untuk mengajarkan bahasa Indonesia dan mengenalkan kebudayaan Indonesia.

Mrc Yenny Susilowati, dosen dari Timur Leste, adalah salah satu pengajar BIPA yang dikirimkan Timor Leste ke Indonesia untuk meningkatkan kompetensinya dalam mengajar bahasa Indonesia. Ia mengatakan, program BIPA lokal di Timor Leste merupakan gagasan inisiatif dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Sedercor Melatunan.

“Ada amanah dari Bapak Atase Pendidikan melalui KBRI Dili.

Kami diutus untuk mengikuti semacam pembekalan di Jakarta, dan harus kembali lagi ke Dili untuk disiapkan sebagai mentor bahasa Indonesia di Timor Leste,” ujar Yenny seusai pembukaan pembekalan pengajar BIPA di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Ia mengatakan, bahasa yang digunakan di Timor Leste adalah rumpun bahasa Portugis yang disebut bahasa Tetun. Namun, katanya, bahasa Indonesia juga cukup dikenal dan mulai banyak dipelajari di perguruan tinggi di Timor Leste. “Kebetulan saya dosen di universitas, dan saya mendapat tugas untuk BIPA. Jadi bagaimana caranya saya harus mengembangkan bahasa Indonesia dengan mengkombinasikan dan memaparkan budaya Indonesia seperti apa, misalnya melalui tarian drama atau puisi, supaya masyarakat pun bisa tahu bagaimana bahasa Indonesia bisa dikenal oleh universitas,” tutur Yenny yang mengajar di Dili Institute of Technology.

Melihat peluang berkembangnya bahasa Indonesia di Timor Leste, Atdikbud KBRI

Dili pun berinisiatif membentuk program BIPA lokal. Biasanya, pengajar BIPA dari Indonesia dikirim ke negara lain untuk mengajar selama empat bulan. Dengan adanya BIPA lokal di Timor Leste, pengajar BIPA yang sudah mendapat pembekalan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud bisa menjadi pengajar BIPA tanpa batasan waktu empat bulan.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Sedercor Melatunan, mengatakan bahwa program BIPA lokal diterapkan untuk efisiensi waktu dalam pengajaran bahasa Indonesia di Timor Leste. “Kalau staf pengajar WNA yang warga negara Timor Leste sudah dibekali pelatihan, maka bisa mengefisienkan waktu pengajaran dalam waktu yang panjang, dan bisa menghemat anggaran negara,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler.

Bahasa Indonesia hingga saat ini telah diajarkan kepada orang asing di berbagai lembaga, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri saat ini tercatat tidak kurang dari 45 lembaga yang telah mengajarkan bahsa Indonesia bagi penutur asing (BIPA), baik di perguruan tinggi maupun di lembaga-lembaga kursus. Sementara itu, di luar negeri, Pengajaran BIPA telah dilakukan oleh sekitar 36 negara di dunia dengan jumlah lembaga tidak kurang dari 130 buah, yang terdiri atas perguruan tinggi, pusat-pusat kebudayaan asing, KBRI, dan lembaga-lembaga kursus. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://riviste.unimi.it/index.php/test03/comment/view/10097/73956/101123