Ajaran Islam Tentang Pentingnya Ilmu Pengetahuan


Ajaran Islam Tentang Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Sejak lebih seribu empat ratus tahun dahulu Islam telah mengajar kita bahawa tiap-tiap satu perkara yang ingin kita laksanakan dengan sempurna mestilah didahului dengan ilmu. Ilmu adalah asas kepada kesempurnaan. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah.” Itu adalah ayat AlQuran yang mempastikan bahawa Muhammad SAW itu adalah seorang nabi lagi rasul.Itulah ayat AlQuran yang pertama didengungkan ketelinganya.Ayat-ayat itu pula menyentuh tentang Ilmu. Tentu saja membaca itu adalah suatu ilmu. Dan yang dibaca juga bersifat ilmu. Demikianlah AlQuran menggambarkan kedudukan Ilmu dalam Islam.

AlQuran menggambarkan kedudukan Ilmu dalam Islam

Sebab itu dalam tradisi Islam, orang yang berilmu amat dimuliakan. Kedudukannya dalam masyarakat adalah amat mulia.Bahkan merekalah pengganti para nabi dan rasul yang sudah tiada lagi di dunia ini. Dalam satu hadith yang dinukilkan oleh AlGhazali dalam kitabnya Ihya Ulumidin bermaksud “Sheikh itu adalah seperti nabi bagi kaumnya,’ menggambarkan betapa kedudukan seorang Sheikh (seorang ketua kaum/ahli Ilmu) itu setelah ketiadaan para nabi. Ahli ilmulah pengganti para nabi dan rasul. Demikianlah tradisi Islam.

Dalam satu permasalahan yang lain, Takwa misalnya, ianya tidak akan dapat dicapai oleh seseorang manusia Muslim melainkan mestilah dengan Ilmu pengetahuan.

Ilmu itulah yang menentukan kedudukan takwa seseorang. Dan takwa itu pula tidak dapat dipisahkan dari seorang ulama. Ini bermakna hanyalah orang yang bertakwa sahajalah yang dianggap ulama yang sebenar. Dan Ulama yang sebenar msetilah bertakwa dan berilmu. Kata “ulama “ itu sendiri adalah kata jamak (plural) dari perkataan “alim”, iaitu orang yang mengetahui, orang yang berilmu. Sebab itu Islam menggalakkan umatnya mempunyai ilmu yang cukup dalam melaksanakan satu-satu tugas seperti sembahyang misalnya. Perlaksanaan sembahyang tidak akan sempurna jika seseorang itu tidak mengetahui tentang cara-cara mengambil wudu’, bersuci, membaca AlQuran dengan betul (tartil) dan segala rukun sembahyang yang lainnya. Ini menunjukkan betapa Islam itu meletakkan martabat ilmu di atas segala yang lain, iaitu sebelum seseorang itu melaksanakan sesuatu perkara.

Bahkan Islam sebenarnya mewajibkan setiap anggota masyarakatnya memiliki ilmu. Dalam satu hadith disebutkan” menuntut ilmu itu adalah wajib ke atas setiap orang Muslim. Dengan demikian, untuk menjadi seorang Muslim yang sempurna kita mestilah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Islam itu sendiri, iaitu berilmu.

Allah berfirman dalam QS. Al Isra:36 yang berbunyi “Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.”.

Dalam islam, belajar adalah kewajiban dan harus dilaksanakan sejak dari buaian hingga akhir hayat, ilmu yang dipelajari meliputi ilmu umum dan ilmu agama, tidak memisahkan diantara keduanya. Dengan belajar, seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan, dan dengan memiliki ilmu pengetahuan maka ia akan memiliki kedudukan berbeda dengan masyarakat awam, setidak-tidaknya dengan ilmu itu ia dapat menjaga dirinya dengan baik.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW mengatakan bahwa : “Barang siapa ingin bahagia di dunia maka ia harus berilmu pengetahuan, barangsiapa ingin bahagia di akherat harus memiliki ilmu pengetahuan dan barang siapa ingin bahagia dunia akherat harus memiliki ilmu pengetahuan.” Hal ini berarti tanpa ilmu tidak mungkin kebahagiaan dunia, akherat atau keduanya dapat kita raih.

Ada suatu gambaran nyata dan sederhana yang pernah terjadi. Ada seseorang berusia dewasa sekitar 45 tahun. Ia tidak pernah mengecap dunia pendidikan, kalau pun pernah hanya untuk beberapa saat saja, sehingga membaca dan berhitung pun ia tidak bisa, namun ia tahu jenis dan nilai mata uang (rupiah). Suatu saat ia ingin bekerja, tapi ia bingung, apa yang mesti ia lakukan. Jangankan ijazah keahlian pun tidak ia miliki.

Akhirnya ia memutuskan untuk berjualan makanan kecil keliling kampung. Ketika ada pembeli yang memanggilnya, ia pun menghampiri dan memperlihatkan makanan yang ia jual dan nilai atau harga makanan itu. Berapa jumlah makanan yang diambil dan berapa rupiah yang harus dibayar pembeli ia tidak tahu. Ia hanya mengiyakan dengan hitungan si pembeli. Jika si pembeli jujur maka ia akan menerima uang sesuai dengan jumlah makanan yang diambil si pembeli, tetapi bila si pembeli curang, maka kerugian yang ia dapatkan. Tidak mengherankan apabila hampir setiap hari ia menderita kerugian.

Itulah gambaran sulitnya hidup dalam mencari nafkah ketika seseorang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Dalam kepahaman ilmu, setiap manusia memiliki kemampuan dan kualifikasi ilmu pengetahuan/keahlian yang berbeda, boleh jadi seseorang memiliki kemampuan/keahlian dalam beberapa bidang tertentu. Namun mutlak mereka harus bekerja sesuai dengan keahlian/ilmu yang mereka miliki. Kemampuan/keahlian itu hanya akan didapat setelah seseorang melalui proses belajar yang terus menerus, baik melalui pendidikan formal, informal atau belajar sendiri (otodidak).

Ada juga pengalaman yang bila didengar cukup menggelitik. Ada seseorang yang berprofesi sebagai guru, suatu saat datanglah seorang tamu ke sekolah yang membagi-bagikan formulir untuk menjadi anggota suatu organisasi. Untuk menarik minat para guru, paparan profil organisasi itu pun disampaikan. Semua teman-temannya tertarik, kemudian mengisi dan mengebalikan formulir tersebut. Hanya dia dan salah satu temannya tidak mengisi formulir tersebut, ketika sang teman menanyakan mengapa formulir itu belum juga diisi. Ia menjawab singkat, bahwa “untuk menjadi anggota suatu organisasi, maka mereka harus mengetahui dan memahami Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi itu”.

Beberapa bulan kemudian, semua teman-temannya yang mengisi/mengembalikan formulir tersebut ditangkap aparat, karena bergabung dengan organisasi terlarang. Ia pun selamat dan kemudian diangkat menjadi PNS. Pengalaman si Bapak membuka wawasan, jangan suka mengikuti sesuatu jika kita tidak memiliki ilmu tentang hal itu.

Dalam Islam, yang sangat vital adalah bahwa seseorang yang ada didalamnya harus memahami dengan baik qoidah-qoidah/aturan-aturan Islam secara Komprehensif. Dalam tingkatan sederhana, ketika membaca Al Qur’an seseorang harus paham qoidah tajwid dan segi makhrajul huruf, panjang pendek, tipis tebal bacaan dan tempat-tempat washal serta wakofnya. Pada saat seseorang akan menyampaikan ayat-ayat Allah SWT pun, maka ia setidak-tidaknya harus membaca asbabun nuzul ayat itu atau mungkin harus membaca tafsir ayat, sehingga ia mengerti sebab-sebab dan makna dalam ayat itu.

Begitu juga disaat seseorang ingin menyampaikan/mengemukakan hadits-hadits Rasulullah SWT, sikap kehati-hatian harus betul-betul ditanamkan. Banyaknya hadist yang ada dan tidak adanya kemampuan kebanyakan kita untuk memilah, mana hadist ahad, hasan, mutawati maupun dhoif, mengharuskan kita lebih menggunakan hadist-hadist shohih yang telah dikaji oleh ulama-ulama hadist. Kalau kita tidak memperhatikan hal itu, bisa jadi kita akan terjebak menggunakan hadist-hadist dhoif atau cerita-cerita Israiliyat.

Dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah hal mutlak untuk meminimalkan kita dari jalan yang salah, karena dengan belajar kita akan bisa memisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Dan dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki kita dapat meraih kesenangan duniawi dan ukhrawi. Amin.

 

Sumber: https://newsinfilm.com/